Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • dhita.annisa10 1:09 am on 16 September 2010 Permalink | Reply  

    cerita inspirasi2 

    Dhita Anggraini Annisa

    F34100025

    Laskar 11

    Saya mempunyai teman, orangnya pemberani dan menurut saya terlalu jujur. Dia akan mengemukakan pendapatnya tentang hal apapun yang dianggapnya perlu ditanggapi. Tetapi dia tidak asal mengeluarkan kata-kata. Dia mengemukakan pendapatnya dengan berani kepada guru, teman, atau siapapun. Dia berpendapat apa adanya. Jika menurutnya jelek, maka dia akan mengatakan jelek. Begitu juga sebaliknya. Dia akan mengatakan sesuatu dengan jujur walaupun kadang kata-katanya terdengar mengesalkan tapi memang itulah yang sebenarnya. Padahal kadang kita bisa berbohong untuk hal-hal tertentu agar orang lain tidak merasa sakit hati. Tidak ingin berbohong hanya untuk menyenangkan hati orang lain. Bagi sebagian orang dia adalah orang yang sangat menyebalkan dan juga sombong, tapi menurut saya sikapnya itu ada benarnya juga.  Dia tidak ingin memberi kebohongan pada orang lain dalam bentuk pujian.

    Teman saya tersebut sangat berbeda dengan saya. Saya tidak akan berani mengemukakan pendapat tentang sesuatu walaupun saya ingin. Saya hanya menyimpannya di pikiran saja. Sifat saya ini tidak boleh dipertahankan. Karena saya dan teman saya itu sering bersama, maka saya mulai belajar dari dia. Saya mulai berani mengemukakan pendapat saya di muka umum sekarang dan semoga saja seterusnya.

    Mudah-mudahan cerita saya tersebut dapat menginspirasi orang lain seperti yang terjadi pada saya sendiri.

     
  • dhita.annisa10 1:07 am on 16 September 2010 Permalink | Reply  

    cerita inspirasi1 

    Dhita Anggraini Annisa

    F34100025

    Laskar 11

    Sebuah cerita inspirasi mengenai kakak kelas teman saya. Suatu hari teman saya bercerita tentang kakak kelasnya yang mungkin saja dapat memacu kita untuk melakukan yang lebih baik. Begini ceritanya, teman saya memilki kakak kelas sebut saja namanya Rani. Pada tahun pertama SMP Rani mendapat nilai baik, tapi semakin lama nilainya makin buruk. Itu karena Rani tidak serius belajar, dia menganggap enteng. Mungkin dipengaruhi lingkungan atau Rani sendiri yang merasa cepat puas. Di kelas dia tidak termasuk siswa yang berisik, tapi dia hanya mendengar bukan menyimak apa yang diajarkan guru. Sampai ketika orangtuanya mendapat surat pemberitahuan tentang akademik siswa, yang mana isinya peringatan kepada Rani sanksi Drop Out karena nilainya yang semakin jauh merosot. Rani kecewa terhadap dirinya sendiri tapi orangtuanya jauh lebih kecewa. Melihat kekecewaan orangtuanya, Rani menyesal. Dia lalu mulai giat belajar. Belajar sungguh-sungguh untuk memperbaiki nilainya. Saatnya pengumuman kelulusan, Rani merasa senang karena dia dan orangtuanya tidak harus kecewa lagi padanya. Rani mendapat nilai yang cukup baik. Usahanya belajar tidak sia-sia.

    Saat Rani memasuki bangku SMA, dia tidak mau santai. Dia serius belajar dan hasilnya adalah Rani mendapat peringkat pertama dikelasnya dan membanggakan orangtuanya.

    Dari cerita Rani, dapat diambil pelajaran untuk tidak cepat puas dan juga untuk berusaha lebih keras saat kita terjatuh.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel